Menyoal Pernyataan Wapres dan Mantan Wapres RI tentang Adzan

0 comments
Menyoal Pernyataan Wapres dan Mantan Wapres RI tentang Adzan

Membaca berita dari berbagai media perihal adzan. Wakil Presiden RI Budiono menyatakan bahwa adzan akan lebih baik jika dikumandangkan dengan pelan, sayup-sayup akan lebih meresap di kalbu. Sementara, mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) menyatakan bahwa adzan lebih baik dikumandangkan dengan keras.

Pak Budiono menyatakan hal tersebut di depan para pemuka agama, demikian juga Pak JK. Komentar dari berbagai lapisan masyarakat beragam. Dari mulai yang mencela bahwa pemahaman Pak Budiono terhadap pentingnya adzan dan sholat terbatas, sampai kemudian komentar yang memuji pemahaman Pak JK terhadap Islam yang lebih baik.

Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menetap di Madinah dan selesai membangun masjid, kaum muslimin yang ingin sholat di masjid tersebut menurut waktunya, mendatangi masjid tanpa pemberitahuan. Selesai sholat, mereka pulang ke rumah masing-masing. Kemudian, mereka akan datang ke masjid pada awal waktu sholat berikutnya, demikian seterusnya.

Melihat kondisi demikian, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam berpikir, alangkah baiknya jika kaum muslimin mengetahui sesuatu tanda kapan waktu sholat tiba dan dekatnya waktu sholat hendak didirikan. Kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan para Sahabat dan minta pendapatnya.

Ada yang mengusulkan agar menggunakan lonceng, tetapi beliau kurang berkenan karena orang-orang Nasrani telah memakainya, kemudian ada yang mengusulkan agar memakai terompet, namun kembali beliau kurang berkenan karena orang-orang Yahudi telah mempergunakan. Pada hari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat belum memperoleh cara terbaik bagaimana memanggil kaum muslimin bahwa waktu sholat sudah tiba dan pemberitahuan bahwa sholat sudah akan didirikan.

Pada suatu hari, Sahabat Abdullah bin Zaid al-Anshari al-Khazraji dalam tidur bertemu dengan seorang laki-laki yang membawa lonceng, kemudian beliau bertanya: “Wahai hamba Allah, apakah engkau hendak menjual lonceng?”

Kemudian hamba Allah tersebut bertanya: “Apa yang hendak engkau lakukan terhadap lonceng ini?”

Maka beliau menjawab: “Untuk memanggil sholat.”

Hamba Allah tersebut kemudian berkata: “Maukah aku tunjukkan kepadamu sesuatu yang lebih baik darinya?”

Kemudian beliau bertanya lagi: “Apa itu?”

Hamba Allah tersebut berkata: “Ucapkanlah Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu Allah Ilaaha illallaah, Asyhadu allaa Ilaaha illallaah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah. Hayya alash Shalaah, Hayya alash Shalaah. Hayya alal Falaah, Hayya alal Falaah. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah.”

Kemudian Abdullah menyampaikan mimpi tersebut pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka, Beliau bersabda: “Itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Pergilah pada Bilal dan ajarkan hal itu kepadanya karena suaranya lebih nyaring daripada kamu.”

Ketika Bilal mengumandangkannya, Umar bin al-Khaththab mendengarnya. Maka, beliau mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Nabi Allah, demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh aku telah bermimpi yang sama dengan mimpinya.”

Maka Rasulullah Saw. bersabda: “Segala puji bagi Allah.”

Dalam Sholat Shubuh, Bilal menambahkan “Ash-Shalaatu Khairan minan Naum”, dan hal ini disetujui oleh oleh Nabi Saw. Kemudian, Nabi Saw. mengajarkan iqamat pada Bilal, beliau bersabda: “Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Asyhadu Allah Ilaaha illallaah, Asyhadu anna Muhammadar Rasulullaah, Hayya alash Shalaah. Hayya alal Falaah, Qad Qaamatish Shalah, Qad Qaamatish Shalah, Allahu Akbar, Allaahu Akbar. Laa ilaaha illallaah.”

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Bilal untuk mengumandangkan adzan, salah satu pertimbangan Beliau adalah Bilal memiliki suara yang nyaring. Selain itu, suaranya pun memang enak (merdu) didengar.

Kota Jakarta dan sekitarnya, seperti Tangerang, Bekasi, Depok dan Bogor, memiliki mobilitas warga yang luar biasa. Ditambah dengan kondisi lalu lintasnya yang luar biasa semrawut dan penuh kemacetan. Sehingga, sebagian besar warga menghabiskan waktu lebih dari 14 jam di luar rumah, untuk menempuh perjalanan dari rumah ke tempat kerja dan bekerja keras.

Kebanyakan para pekerja keluar rumah pukul 5 pagi dan kembali ke rumah sekitar jam 9 malam. Bahkan, para pelajar pun harus bangun pukul 04.30 karena sekolah di Jakarta dimulai pukul 06.30 WIB. Kesemrawutan lalu lintas, ditambah tindak kriminalitas yang setiap saat mengancam, telah mengakibatkan anggota masyarakat mengalami kelelahan fisik dan psikis yang luar biasa.

Dalam kondisi seperti ini, istirahat tidur sangat diperlukan oleh warga masyarakat. Kelelahan fisik akan membuat para warga tidur sangat nyenyak, sehingga waktu Shubuh yang tiba pada sekitar pukul 04.30 WIB akan sulit disadari oleh kaum muslim ibukota dan sekitarnya.

Suara adzan yang keras, yang berkumandang sekitar 3-5 menit, akan sangat membantu kaum muslimin untuk segera bangun dan bersiap-siap menuju mesjid dalam rangka Sholat Shubuh berjamaah. Bagi kaum muslimin, suara adzan merupakan panggilan dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya untuk segera menunaikan kewajiban yang telah diperintahkan-Nya. Dengan demikian, pernyataan mantan Wakil Presiden RI lebih tepat dibanding pernyataan Wakil Presiden RI saat ini. Wallahu a’lam.republik

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly
468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *