Polisi Ingin Pencak Dor ala Gus Maksum Lebih Apik

0 comments
Polisi Ingin Pencak Dor ala Gus Maksum Lebih Apik

Kediri, Aparat kepolisian di wilayah Eks Karesidenan Kediri ingin panggung pencak bebas atau dikenal dengan istilah “Pencak Dor” yang biasa digelar oleh Pemimpin Pencak Silat NU Pagar Nusa Gus Maksum (alm) dan para pendekar lainnya bisa lebih apik dan menghibur.
Untuk memuluskan keinginan tersebut, pihak kepolisian Kamis (10/1)kemarin mengundang para jawara pencak dor di wilayah, Kediri, Blitar, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek di Mapolresta Kediri. Acara tersebut juga dihadiri wakil pemda dan Kodim serta KONI dan IPSI masing-masing. Ada sekitar 100 jawara pencak dor hadir pada saat itu.

“Kami ingin pencak dor itu tampil bagus dan dan taat aturan,’’ ujar Kapolresta Kediri AKBP Tio Kuncoro kepada NU Online.

Sekalian, lanjut Kuncoro, selama ini belum ada kejelasan, apakah Pencak Dor itu masuk pada olah raga prestasi atau olah raga rekreasi. Karena kejelasan itu, penting mengingat Pencak Dor adalah olahraga beladiri keras, sebab terkadang sampai berdarah-darah. “ Kami juga ingin kejelasan. Apakah masuk olah raga prestasi. Apa masuk olah raga rekreasi,’’ ungkap Kuncoro.

“Kalau menurut saya Pencak Dor ini masuk olah raga rekreasi. Karena disitu ada unsur seni budaya, kemampuan sesuai dengan kondisi dan nilai budaya masyarakat untuk kesehatan, kebugaran daerah dan kegembiraan,’’ ungkap Kuncoro.

Pencak dor, adalah seni beladiri yang ada di wilayah Karesidenan Kediri. Kesenian itu besar tumbuh diwilayah Kediri, Blitar, Tulungagung dan Nganjuk.

Kesenian ini, berasal dari kalangan Pondok Pesantren NU. Khususnya pesantren Lirboyo, Kediri dengan tokoh KH Maksum Jauhari (Gus Maksum). Ia membentuk persatuan bernama GASMI ( Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) yang kini masuk dalam wadah IPSNU Pagar Nusa dan IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia) Kediri.

Sementara di Blitar ada tokoh yang namanya Mohammad Munir (Gus Munir) dengan wadahnya GOPI (Gabungan Olahraga Pencak Islam). Tokoh ini juga pendekar dari salah satu pesantren di Blitar dan sangat berpengaruh.

Selain itu juga muncul satuan baru yakni Porsigal (Pendidikan Olah Raga Silat Garuda Loncat) dengan tokohnya KH Moh. Gholib, pendekar kepercayaannya KH Abdul Djalil Mustaqim (alm) dari Pesantren PETA Tulungagung. Hingga saat ini mereka masih melatih dan mendidik para pendekar. Hasilnya bisa dilihat saat ada pentas pencak dor. Organisasi ini juga salah satu anggota pendiri Pagar Nusa dan sudah bergabung dengan IPSI.

Kesenian ini hingga sekarang terus berkembang. Hampir setiap dua minggu sekali ada pagelaran dengan jumlah penonton rata-rata diatas 10 ribu penonton. Ya… namanya kesenian dan budaya, meski ini olah raga keras tidak ada aturan yang baku. Peraturannya sangat sederhana.

Dalam pertandingan para pesilat tidak boleh menggigit. Tidak boleh pakai cincin. Tidak boleh mencakar. Tidak boleh memukul atau menendang kemaluan. Apabila lawan sudah jatuh tidak boleh diserang. Tidak ada ronde atau babak. Pokoknya yang satu sudah jatuh tiga kali atau menyerah pertandingan harus selesai.

“Memang tidak ada aturan baku. Aturannya hanya moral dan saling percaya kepada para wasil atau peladang,” Mohammad Shobiri, pendekar asal Blitar.

Jadi tidak ada dendam diantara pesilat, meski dalam pertandingan terjadi cedera atau sampai ada yang KO istilah di Tinju. Karena dalam pencak dor itu ada semboyan “ Diatas Lawan dibawah teman”. Artinya saat bertanding di atas pentas kedua pesilat adalah lawan bertanding. Kalau sudah selesai mereka menjadi teman. Karena sejatinya mereka sama-sama santri pesantren. “ Jadi budaya ini tumbuh hingga sekarang,’’ tambah Mohammad Abdul Latif pendekar silat asal Kediri yang juga salah satu murid Gus Maksum.

Dalam perkembangannya, aparat kepolisian kebingungan dalam memberikan ijin. Karena tidak ada kejelasan masuk katagori apa. Selama ini ijinnya ya masuk ijin pertunjukan. Meski ada unsure kekerasannya.

“Karena itulah. Para pendekar silat kita kumpulkan untuk membahas masalah ini. Dengan harapan, olah raga ini terus bisa tampil dan mendapat jaminan hokum. Sehingga baik pesilat maupun aparat kepolisian sama-sama melaksanakan tugasnya dengan baik,’’ tambah Kapolresta.

Dalam pertemuan itu akhirnya disepakati, harus dibentuk sebuah persatuan atau paguyuban. Paguyuban ini nantinya akan menelorkan aturan dan tatacara pagelaran pencak dor.

“Aturan dan tata cara ini yang nanti akan jadi pato’an penyelenggaraan pencak dor. Tidak hanya di Karesidenan Kediri. Namun sampai se Jatim atau bahkan tingkat nasional,’’ ungkap Kuncoro.nu

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly
468 ad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *