Embah KH. Uzer

EMBAH KH. UZER (KH. NASHUHA I)

1827 – 1867

Berdasarkan silsilah yang dimiliki Embah KH. Uzer Nashuha adalah putera Ny. Hj. Kafiyah binti KH. I’rob bin KH. Adzro’i (KH. Buyut Habibah) atau yang dikenal dengan nama Ki Buyut Peti dari Demak, nama Nashuha bukanlah nama ayahandanya tetapi nama putera sulungnya. Embah KH. Uzer Nashuha mendirikan sebuah pesantren yang awalnya merupakan padepokan untuk memberikan pendidikan agama bagi umat islam dan sebagai symbol serta basis perlawanan terhadap penjajah Belanda pada waktu itu.

Pondok Pesantren An-Nashuha didirikan pada tahun 1248 H / 1827 M oleh Embah KH. Uzer Nashuha berlokasi di Desa Kalimukti Kec. Pabedilan Kab. Cirebon, sebuah Desa yang sebelumnya bernama Kalibuntu, adalah Desa yang berada ditepian sungai Cisanggarung sebagai garis perbatasan Jawa Barat – Jawa Tengah kurang lebih 5 Km dari arah Losari dan 7 Km dari arah Ciledug. Pondok Pesantren An-Nashuha sejak didirikannya bukan hanya mencetak para Santrinya menjadi Kadar-kader ‘Ulama untuk melestarikan estafeta Kepemimpinan Pesantren dan Izzul Islam Wal Muslimin di daerahnya masing-masing sebagai Pengawal Hazanah Keilmuan Keagamaan ditanah air, tetapi secara kolektif para Kyai Pengasuh Pesantren dan para Santri membangun Patriotisme, Nasionalisme dan Hubbul Wathan (Cinta Tanah Air).

Maka semangat anti Penjajahpun dikobarkan, para Kyai Pengasuh Pesantren dan para Santrinya ikut terlibat langsung dalam berbagai grilya dan pertempuran. Melawan Penjajahan Kolonial, baik untuk mencapai kemerdekaan maupun dalam rangka mempertahankan Kemerdekaan itu sendiri. Sampai akhirnya mengisi Kemerdekaan dengan melakukan kajian-kajian terhadap ilmu keagamaan bersama para Santri.

Salah satu karomah beliau yang banyak disaksikan orang adalah dikala membangun masjid Jami’ Baiturrahman (sekarang disamping Balai Desa Kalibuntu) kekurangan kayu untuk tiang inti (tengah) sebagai penyangga kubah, kemudian beliau bermusyawarah bagaimana untuk mendapatkan kayu tersebut, kemudian salah seorang memberitahukan bahwa di Kalibuntu Sabrang Wetan (Jawa Tengah) terdapat banyak kayu milik H. Abdur Rouf, kemudian Embah KH. Uzer menemuinya dan menyampaikan perihal kedatangannya dan H. Rouf-pun mengantar beliau dan mempersilahkan Embah KH. Uzer untuk memilih kayu yang pas untuk dijadikan tiang itu. Kemudian Embah KH. Uzer mencari kayu tersebut di blok Alas Depok, setelah mendapatkan kayu yang pas Embah KH. Uzer berpamitan untuk pulang dan menyampaikan bahwa yang akan membawa kayunya nanti para anak muda dari Kalibuntu. Kemudian Embah KH. Uzer menyampaikan kepada jama’ah bahwa dia telah mendapatkan kayu dan tinggal diambil, di sabrang wetan kalibuntu blok alas depok (kebun milik H Ro’uf), kemudian dipilihlah anak-anak muda yang kuat dan kekar untuk mengambil kayu tersebut mereka di komandani H Mawardi (menantu Embah KH Uzer Nashuha) yang ditunjuk langsung oleh beliau, sebab H Mawardi dianggap paling unggul diantara mereka baik dalam hal berbicara, ilmu maupun tenaganya. Berangkatlah mereka ke sabrang wetan untuk mengambil kayu, ketika sampai disana ternyata mereka mesti dalam jumlah yang banyak tidak mampu mengangkat kayu itu terlebih membawanya ke Kalibuntu, akhirnya terpaksa mereka pulang dengan tangan hampa dan menghadap Embah KH. Uzer Nashuha, sebelum mereka menjelaskan lebih dulu Embah KH. Uzer menanyakan mereka “Endi kayune… ka balik lembean bae ?”, mereka menjawab “Boten kiat Kiyai!”, “Ya-ampun ente kah dadi wong enom priben, gawa kayu semono baekuh abot, ya- wislah ora papa!” ujar Embah KH. Uzer, hingga siang hari, sore sampai larut malam mereka memikirkan bagaimana cara untuk membawa kayu itu, namun ketika senja datang ternyata kayu itu sudah berada dihalaman mesjid.

Kayu tiang itu sampai sekarang masih ada, namun setelah masjid itu direhab beberapa kali dan sekarang kayu jati itu dibuat untuk jendela mesjid.

Embah KH. Uzer Nashuha banyak menimba ilmu dari ayahandanya sejak usia dini sebelum melanglang buana dari satu pesantren ke pesantren yang lain, sampai akhirnya beliau berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji sekaligus bermaksud muqim disana untuk menuntut ilmu. Hal yang demikian sudah menjadi kelaziman pada zamannya KH. Hasyim Asya’ri, KH. Mahfudz At-Tirmasi, KH. Kholil Bangkalan, KH. Arsyad As-Sambasi, KH. Yasin Al-Fadani bahkan KH. Nawawi Al-Bantani, Masyayikh tersebut berangkat ke Mekkah untuk melakukan ibadah Haji dan sekaligus muqim disana guna memperdalam ilmu agama.

Tetapi manusia hanya bisa berikhtiar dan berharap, sesungguhnya semua yang terjadi diatas bumi dan langit semuanya telah tersurat dalam qodlo dan qodar Allah SWT, Embah KH. Uzer Nashuha harapan ayahandanya itu ditaqdirkan Allah SWT untuk tidak dapat pulang selamanya untuk memangku estafeta kepemimpinan Pondok Pesantren, beliau wafat di Mekkah dan dimakamkan disana. “inna lillahi wainna ilaihi roji’un”.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly