KH. Nashuha Uzer


KH. Nashuha Uzer

1868 – 1927

Nama lengkapnya Nashuha Manshur, artinya yang tulus, yang murni, yang ditolong Allah menuju jalan yang di Ridloi-Nya. Putera sulung Embah KH. Uzer ini merupakan tonggak pilar supermasi penting dalam perjalanan Pondok Pesantren An-Nashuha, namanya diabadikan sebagai nama Pondok Pesantren yang didirikan ayahandanya.

Beliau putera tertua dari 8 bersaudara hasil perkawinan Embah KH. Uzer dengan istri pertamanya Ny. Hj. Palkini, delapan bersaudara tersebut yaitu KH. Nashuha, KH. Amdad, Ny. Hj. Ruqoyyah, KH. Autad Abd. Syakur, KH. Mu’adz, Ny. Iskiyah, Ny. Muslimah dan KH. Ma’shum.

Sebagai putera sulung, KH. Nashuha sangat didambakan ayahandanya sebagai pengganti dan pewaris estafeta kepemimpinan Pondok Pesantren. Maka tidak aneh jika beliau sangat disayang dengan terus menerus dimotifasi untuk memperdalam ilmu agama diberbagai pesantren.

Keluarga Besar Pesantren An-Nashuha memahami betul akan keinginan dan harapan besar Embah KH. Uzer terhadap putera sulungnya ini, hal ini dapat dilihat dari cara bagaimana beliau menimang, mendidik dan meperlakukan Nashuha kecil.

Sehingga Embah KH. Uzer dipanggil Bapak Nashuha artinya Ayah dari Nashuha, sebutan tersebut terus berlangsung sampai akhirnya orang tidak lagi memanggil Embah KH. Uzer kecuali dengan sebutan Embah KH. Nashuha, maka sejak itulah dikenal dua Nashuha yaitu Nashuha Tua yang tiada lain Embah KH. Uzer dan Nashuha Bocah (anak) yang tiada lain pula Nashuha Manshur si putera sulung

KH Nashuha Manshur menikah dengan seorang perempuan yang masih ada hubumgam keluarga bernama Ny Fatmah dari Kebonagung Pasuruan dan dikaruniai 8 (delapan) orang anak yaitu Fatimah bocah, K Umar, K Muhammad, K Fadlol atau Falal, K Agus, Ny Sapura, K Bukhori dan Ny Salamah.

Harapan Embah Uzer nampak berhasil dengan gemilang, KH Nashuha Manshur disamping mampu meneruskan estafeta kepemimpinan Pesantren, beliau juga berhasil mengembangkan dzurriyyah dan kekerabatan dengan Kyai kyai lain sehingga Bani Nashuha menyebar keberbagai desa dan daerah untuk mengembangkan da’wah Islamiyah agar lebih merata.

Dibawah kepemimpinan beliaulah Pondok Pesantren An Nashuha makin eksis, pengakuan dan kepercayaan masyarakat terhadap Pesantren makin kuat dan mengakar, sehingga Desa Kalibuntu Blok Wage saat itu dikenal kuat sebagai Blok Pesantren.

Beliau Wafat dengan meninggalkan jasa besar atas eksistensi Pondok Pesantren An Nashuha sebagai peninggalan yang harus diwarisi oleh para dzurriyyahnya dan dimakamkan di Kebonagung Pasuruan Losari.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly