KH. Manshur Abdul Manan

Laki-laki bertubuh tinggi besar kelahiran tahun 1910 putra dari pasangan KH. Abdul Manan dan Ny. Hj. Wasfiyah ini merupakan salah satu santri langsung Almarhum almaghfurlah KH. Abbas bin KH. Abdul Jamil Buntet Pesantren, KH. Manshur mengambil Sanad Qiroatul Quran, Ilmu-ilmu Syari’ah, Tasawuf dan Al-Hikmah juga dari beliau, maka tidak aneh jika dalam hidup dan kehidupannya selalu Ta’dzim, nunut manut, Sam’an watho’atan terhadap Kyai-kyai Buntet Pesantren. Disamping mengaji Alquran dan Kutubus Salafi KH. Manshur rajin melakukan Riyadloh dan Wadzifah dalam thoriqoh dan Al-Hikmah. Sepulang dari Pesantren beliau mempersunting seorang gadis Ny. Hj. Khafshoh Putri dari KH. Otad Abdus Syakur Pengasuh Pesantren An-Nashuha pada waktu itu dan dikaruniai 3 orang putra dan 9 orang putri, satu-satunya anak laki-laki yang hidup adalah KH. Moh. Usamah Manshur yang sekarang memegang tampuk estafeta kepemimpinan Pesantren.

Pasca pernikahannya dengan Ny Hj Khofsah, KH Manshur memboyong isterinya ke desa kelahirannya Babakanlosari setelah lahir anak pertama Ahmad Faqih tahun 1947, beliau di panggil Mertuanya untuk tinggal di Kalibuntu untuk membantu mengelola Pesantren karena K Sufyan sebagai anak tertuanya tinggal bersama isterinya di Losari maka KH Manshurpun berkiprah membantu mertuanya dengan mengajar Al-Qur’an dan kitab-kitab salafi terhadap para santeri dan melakukan pembinaan terhadap masyarakat umum sebagaimana lazimnya pengasuh Pesantren.

Disamping kedermawanannya yang melekat, hobinya menjala dan seni mengajarkan genjring marhaban dan sholawat kepada para santrinya, naik turun kegunung untuk bergerilya melawan penjajah/sekutu Belanda, itulah KH. Manshur yang selama hidupnya melakukan bimbingan ilmu dan bekal kepada para pemuda sebagai salah satu bentuk persiapan untuk melakukan pertahanan dan perlawanan kepada pasukan sekutu di masa penjajahan. Beliau menjadikan persatuan pemuda dengan membentuk serta merapatkan barisan didalam pasukan Hisbullah, mereka membaur bersama pasukan lainnya yang siap berada barisan terdepan dalam pertempuran melawan penjajahan Belanda dengan semangat juang yang tinggi.

Selanjutnya kelompok DI (Darul Islam) yang tergabung dari pemuda-pemuda yang membentuk jajaran tentara Islam dan beliau sendiri sebagai pimpinannya. Namun disamping itu munculnya kelompok lain yang mengatas namakan dari sebagi kelompok pemuda Islam yaitu Gagak Solo atau disebut juga kelompok Gagak Hitam, yang dipimpin oleh Maun dan Bangsa yang melenceng dari koridor perjuangan dan malah menebar fitnah terhadap kelompok pimpinan KH Manshur untuk diadudombakan dengan musuh sekutu Belanda di awali dengan terbunuhnya seorang security Belanda yang bertugas menjaga kebun tebu di Kalibuntu, kematian tentara belanda tersebut di manfaatkan oleh kelompok tersebut untuk menebar fitnah bahwa yang membunuh tentara belanda tersebut tiada lain KH Manshur.

Maka tak ayal lagi KH Manshur yang baru saja menikahkan Aman keponakan isterinya dengan adiknya Mahmudah binti KH Abd Manan di tangkap di ikat di tutup kedua matanya di seret dengan Jeep di lempar di bawah pohon kelapa dan badannya di hujani seluruh buah kelapa yang ada di atasnya, penyiksaan tersebut tidak berhenti sampai di situ, sesampainya di penjara beliau di paksa untuk minum seember air sabun, diinjak-injak dan di tendang di paksa untuk menelan satu pak peluru/amunisi aktif dan minum air keras, tetapi berkat Inayah dan Riayah Allah SWT beliau selamat tanpa luka sedikitpun. Padahal teman seperjuangan yang sama-sama di tangkap, H Dasuku Pasuruan meninggal karena tak tahan siksaan dan H Rais , Babakan maninggal karena lari dan di tembak Belanda, pada ahirnya kelompok Gagak Hitampun habis ditumpas dan disadarkan.

Dari kasus inilah nama besar KH Manshur tersohor sebagai seorang Kiyai yang sakti mandraguna yang terkenal dengan memiliki Indera Keenam, maka tidak aneh jika banyak orang berdatangan dari berbagai daerah seperti Subang Pasundan, Ibu Kota Jakarta, Jawa Tengah bahkan Palembang dan daerah luar Jawa lainnya dari masyarakat biasa, para Kuwu, Pejabat samapi Perwira tinggi TNI. Beliau terus melakukan Da’wah Islamiyah baik secara dialogis maupun monologis dengan sekaligus pemantapan Thoriqoh Spiritual dan ritual-ritual Al-Hikmah..

Dengan demikian tidak aneh kalau rumah beliau dibakar habis oleh musuh-musuh perjuangannya dan kerap kali beliau keluar masuk penjara, suatu saat dalam keadaan sakit beliau ditangkap diikat kedua tangan dan kakinya serta ditutup matanya diseret dengan Jeep dicekoki seember air sabun kemudian diletekkan dibawah pohon kelapa, kemudian dengan serta merta buah kelapa yang ada dijatuhkan semua menimpa tubuhnya, akan tetapi dengan kelinuihan ilmu beliau serta atas pertolongan Allah, air sabun dan kelapa-kelapa yang ditimpakan kepada beliau tidak berpengaruh apa-apa, sehingga makin membuat geram pihak musuh, dengan demikian pantas sosok manusia semacam Kyai Manshur senantiasa dikejar-kejar Belanda untuk dibunuhnya dimanapun beliau berada.

KH. Manshur-pun merespon Resolusi Jihad yang dikumandangkan Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama di Surabaya pada tanggal 22 Oktober 1945 yang menyatakan bahwa Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia Hukumnya Fardlu ‘Ain bagi Umat Muslim Indonesia, maka pada tanggal 10 November 1948, KH. Manshur ikut serta mengawal KH. Abbas Buntet Pesantren ke Surabaya untuk bergabung dengan Hadrotus Syaikh Hasyim Asy’ari, Bung Tomo dan Arek-arek Suroboyo lainnya dalam Pertempuran melawan tentara sekutu.

Siapa yang tak kenal perjuangan KH. Manshur, salah satu sejarah yang memperkuatkan bahwa Kyai Manshur adalah pejuang pembela tanah air, sehingga beliau dianggap musuh oleh tentara Belanda, maka banyak sekali yang mengincar beliau untuk ditangkap dan dibunuh, namun dengan kekuasan Allah SWT dan karomah yang dimilikinya, beliau tidak mendapatkan rasa putus asa sedikitpun.

Salah satu karomah beliau adalah kebal terhadap peluru-peluru yang ditembakan pada tubuhnya oleh pasukan Belanda, kuat terhadap tindasan tank-tank Belanda, dan ahli ilmu Hikmah. Kuwu Sabdani dan Ibu Kuwu suatu saat berkunjung di rumah KH Manshur tiba-tiba datang 4 orang langsung masuk ke ruang dalam rumah dan mengeroyoknya, mereka adalah dua bersaudara Yasin, Yasa dan dua orang lain sebagai pembunuh bayaran. Kyai Manshur di bacok berulang-ulang dengan parang dan golok di kala Pak Kuwu sibuk dan bingung bagaimana melerai pengeroyokan tersebut ternyata di ketahui Kyai Manshur sedang santai merokok di ruang tamu, jadi siapakah sesungguhnya orang yang di keroyok dan di bacok tersebut? Di kala di tanyakan kepada Kyai Manshur beliau hanya tersenyum simpul.

Pada masa kepemimpinan Kyai Manshur kiprahnya tidak hanya terkonsentrasi kepada santri dan pondok pesantren tetapi kemasyarakat secara umum beliau siap menjadi perangkat desa menjadi Ngebihi (Kaur Ekbang) pada dekade tahun 60-an pada saat Kuwu Sabdani desa Kalibuntu (belum ada Kalimukti), selama menjabat beliau tidak pernah menariki pajak dari masyarakat tetapi sebaliknya pajak ditanggungnya sendiri (ditomboki), hal ini menunjukan bahwa beliau memiliki kedermawanan, kepedulian dan pengabdian yang tinggi terhadap masyarakat.

Setelah bebas tugas dari Pemerintahan Desa disamping bertani dan beternak kambing kiprah beliau sepenuhnya terkonsentrasikan untuk mengembangkan Pesantren An-Nashuha dengan terus melayani para santri dan masyarakat pada umumnya.

Kharisma Kyai Manshur banyak membantu merebaknya nama pesantren An-Nashuha. Tidak heran bila jumlah santri semakin bertambah banyak disampimg masyarakat sekitar pesantren An-Nashuha banyak pula santri dari desa-desa tetangga dan bahkan dari wilayah Subang, Kuningan, Brebes dan lain-lain mereka nyantri ke Kyai Manshur, disamping itu banyak tamu yang berdatangan untuk minta Barokah Ziayadah do’a, konsultasi, mengaji dan menjadi santri tetap di Pondok Pesantren An-Nashuha.

Ajaran KH Manshur yang sangat terkenal di kalangan para santrinya adalah semboyan “ULAH KAGEDAG KA LINIAN, GATULI WETON KA PAGEUH” Artinya kira kira “Jangan pernah takut bayang-bayang tapi berpegang teguh Aqidah dan Syariah yang kuat”.

Adapun putera puteri beliau hasil pernikahannya dengan Ny. Hj. Khafshoh dikaruniai 3 orang putra dan 9 orang putri yaitu : Ahmad Faqih, Aminah, Tadzkiroh Haiah, Salamah, Karimah, Muridah, Sibawaih, Tul Asiroh, Yumnani, Muhammad Usamah, Kafiyah dan Riayah.

Sedangkan para menantu beliau adalah : K. Achyad Abd. Mu’in, Ust. Maufur, K. Abd. Jalil, K. A. Faridi, Ust. Ridlwan Sholeh, Ny. Hj. Munyati, K. Ibnu Umar Susilo dan Ust. Mukhyar Basyir.

Beliau sempat menikah lagi dengan seorang janda dari Desa Kedungneng Losari Jawa Tengah tetapi tidak dikaruniani anak.

Beliau wafat pada bulan Juni 1973 dalam usia 63 tahun dengan meninggalkan jasa besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan Pondok Pesantren An-Nashuha dan dikuburkan di Maqbaroh Khusus Keluarga di Kalimukti dan Maqbarohnya sampai sekarang ramai dikunjungi peziyarah baik para santri maupun masyarakat umum.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly