K. Ahyad Abd. Mu’in

Beliau lahir sebelum masa kemerdekaan di Desa Kalimukti yang pada saat itu masih bernama Kalibuntu, tepatnya pada 16 Juni 1934 dari pasangan Abdul Mu’in dan Istighotsah binti Ny Iskiyah binti K Uzer.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SR (Sekolah Rakyat) beliau melanjutkan pendidikannya di Pondok Pesantren pada tahun 1945, di antara Pondok Pesantren yang pernah beliau singgahi adalah Pondok Pesantren Buntet. Selama enam tahun beliau menimba ilmu disana, sejak tahun 1946 hingga tahun 1951. Selama di sana beliau tinggal di Asrama Kyai Zein Abd Mun’im.

Setelah beliau menamatkan Madrasah Ibtidaiyah di Pondok Buntet Pesantren beliau melanjutkan ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri jawa Timur, yakni pada tahun 1952. Di sana beliau bertemu dengan banyak teman yang masih satu daerah, seperti Najib dari Jatiseeng, Abdullah dari Damarguna, Makhfuf dari Ciledug dan masih banyak lagi teman sedaerah lainnya. Di sana beliau tinggal di Asrama Malaya, di namakan Asrama Malaya karena sebelum di tempati oleh anak-anak dari Kecamatan Ciledug, terlebih dulu di tempati oleh anak-anak dari Malaisya.

Di sana beliau di terima masuk di kelas empat Madrasah Ibtidaiyah setelah melalui runtutan tes, diantaranya menghafal 350 bait Nadzom Alfiyah, membaca Kitab Fathul Mu’in dan harus menjawab sepuluh soal yang diambil dari berbagai fan ilmu yang ada, seperti Nahwu, Shorof, Fiqih, Ushulul Fiqh, Tauhid, Tafsir dan Mustholahul hadits. Beliau termasuk santeri yang cerdas dibandingkan dengan teman-temannya yang lain yang diterima masuk ke kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah.

Pada pertengahan bulan Januari tahun 1955 beliau mendapatkan surat dari orang tuanya Abdul Mu’in di kalibuntu, yang berisikan perintah agar beliau bergegas pulang, karena ada kepentingan yang sangat mendesak, dalam hal ini beliau akan di nikahkan dengan Aminah puteri sulung KH Manshur Abd Manan yang saat itu Pengasuh Pondok Pesantren An-Nashuha generasi yang ke empat, yang di beritahukan saat beliau sampai di rumah. Beliau tidak bisa menolak karena semua persiapan sudah matang, pernikahan itu berlangsung pada 15 Januari 1955 M bertepatan pada 25 Jumadil Awal 1374 H, beliau menikah pada usia 21 tahun, sedang Aminah berusia 15 tahun.

Sepuluh hari setelah pernikahannya beliau kembali ke Pondok pesantren Lirboyo untuk melanjutkan pendidikannya yang tinggal beberapa bulan lagi. Dan setelah di nyatakan lulus dari Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Mubtadiin yang pada saat itu selaku Kepala Madrasahnya adalah KH Mahrus Ali, pada tanggal 9 April 1955 M bertepatan 19 Sya’ban 1374 h, beliau melayangkan sebuah surat permohonan izin kepada orang tua dan mertuanya untuk menambah satu tahun lagi di Lirboyo karena ada kitab yang belum khatam di kaji, yaitu kitab Sirojuttholibien dan Kitab Ihya Ulumuddien yang sedang di kaji oleh KH Marzuki Dahlan selaku Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo pada waktu itu, dan KH Manshurpun mengizinkannya.

Pada tanggal 10 April tahun 1956 H bertepatan 21 sya’ban 1375 H, beliau secara resmi boyong (Istilah untuk santri yang selesai Mondok dan pulang ke rumah) dari Pondok Lirboyo Kediri, kepulangan beliau di sambut hangat oleh masyarakat kalimukti, khususnya di lingkungan Pesantren, hingga satu tahun setelah kepulanggan beliau, beliau menyampaikan gagasan untuk mendirikan Madrasah kepada KH Manshur Abd manan dan KH Sufyan selaku Pengasuh dan Sesepuh Pondok Pesantren An-nashuha waktu itu, setelah mendapatkan restu dari keduanya lalu berdirilah Madrasah Diniyah dengan di beri nama Madrasah Salafiyah yang saat itu bertempat di Mushala Kyai Asy’ari yang sekarang menjadi Masjid Al-Barokah. Kyai Asy’ari adalah kakek beliau menantu dari Kyai Uzer pendiri Pondok Pesantren An-nashuha yang di kenal dengan Kyai Nashuha tua.

Beliau di karuniai enam orang anak, namun nanak yang pertama dan yang ke dua meninggal ketika masih dalam usia kanak-kanak, anak ke tiganya bernama Abu Hayan yang sekarang berdomosili di Pondok Pesantren Gedongan, anak ke empat juga meninggal pada usia tiga bulan, lalu anak ke lima perempuan bernama Qoyumah sekarang berdomosili di Desa babakan Losari, dan anak yang ke enam laki-laki bernama Wildan sekarang berdomisili di Pondok Pesantren An-Nashuha, anak terakhir perempuan akan tetapi meninggal hanya beberapa saat setelah di lahirkan.

Beliau di kenal masyarakat sebagai seorang yang yang sangat sabar dalam mendidik santri, hal ini karena beliau selalu melaksanakan amanat dari KH Marzuki Dahlan agar santri setelah pulang ke rumah, jangan sampai tidak mengajr. Beliau meninggal pada tahun 1978, saat Abu Hayan baru berusia 11 tahun, Qoyumah berusia 8 tahun sedang Wildan berusia 5 tahun.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly