K. Munawir Musyafa

K. Munawir adalah putra sulung dari pasangan K. Musyafa dan Ny. Khasinah, beliau di lahirkan sekitar pada hari Rabu Tanggal 06 Oktober 1927 di Desa Losarikidul blok Panggang kidul Kec. Losari Kab. Cirebon, bilau adalah anak cucu K. ‘Uzer (K. Nasuha tua), beliau termasuk dari keturunan Ny. Tua dan Ny. Muda, dari Ny. Tua yaitu dari Ayah (K. Musyafa bin Ny. Rukayah binti Ny. Palkini K.’Uzer) dari Ny. Muda yaitu dari Ibu (Ny. Khasinah binti Ny.Rolah (Ny. Raodloh) binti Ny. Siti K. ‘Uzer).

Beliau menutut ilmu di Pondok Pesantren semenjak usia 9 tahun, sekitar tahun 1936 di Pondok Pesantren Gedongan, kemudian setelah menginjak dewasa beliau melanjutkan di Pondok Pesantren Buntet sekitar tahun 1946, beliau di Asramanya K. Khamim tetapi belajar mengaji Al-Qur’an mereka di KH. Zen bin K. Mun’im, tetapi setelah tiga tahun beliau pindah di asrama KH. Zen bin K. Mun’im beliau di Buntet selama 6 tahun, selanjutnya beliau melanjutkan di Pondok Pesantren Kempek namun tidak lama sekitar 1 tahun, beliau di K. Aqil Siraj, kemudian dari pesantren Kempek pindah ke Pondok Pesantren Pekalongan selama 3 tahun, setelah dari Pekalongan beliau melanjutkan di Pondok pesantren Kaliwungu Kendal selama 3 tahun kemudian beliau melanjutkan di pondok Pesantren Banten selama 1 tahun, kemudian beliau kembali di Pondok Pesantren Buntet selama 2 tahun, kemudian beliau oleh Ayahandanya di jemput untuk boyong dan setelah itu dinikahkan dengan seorang putri yang bernama Maemunah yaitu putri ke 6 dari 7 saudara beliau yaitu putri dari pasangan Walmin (Abdul Mu’in) dan Gosah binti Ny. Iskiyah, kemudian beliau dikaruniai putra sebanyak 10 orang di antaranya anak anak pertama dan kedua meninggal sejak masih balita yaitu diberi nama Nahdudin dan yang kedua di beri nama Khaeriyah, anak ke tiga sampai ke 10 sampai sekarang masih ada yaitu anak ketiga diberi nama Khaelani sekarang sudah berkeluarga dan bertempat tinggal di Desa Panggangsari mereka di karuniai anak 3, anak ke empat diberi nama Zulfa mereka sudah berkeluarga dan di karuniai anak 5 dan bertempat tinggal di Kalimukti, anak ke lima diberi nama Sodikin dan sudah berkeluarga dikaruniai anak 2 bertempat tinggal di Desa Kalimukti, anak ke enam adalah putri yang diberi nama Mubarokatul Ghizar dan sudah berkeluarga dan dikaruniai anak 1, anak ke tujuh diberi nama Musta’in dan sudah berkeluarga sekarang bertempat tinggal di Desa Kalimukti, anak yang ke delapan yaitu diberi nama Muhammad Muawan belum berkeluarga, anak yang ke sembilan diberi nama Muqoyim belum berkeluarga dan anak paling bungsu yaitu anak yang ke sepuluh di berinama Muhammad Muakhir yang masih menuntut ‘ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

K. Munawir dimasa mudanya aktif di Organisasi Anshor dan Banser, beliau juga aktif di Partai Politik kemudian setelah berusia 40 tahun beliau beristiqomah untuk mengabdikan diri di Pondok Pesantren An-Nashuha yaitu untuk mengajar kitab salaf pada santri dan masyarakat dan di serahi Oleh Al-Maghfurlah KH. Manshur selaku Pengasuh Pondok Pesantren An-Nashuha setelah wafatnya K. Sufyan untuk di jadikan Imam Rowatib Masjid Pesantren yang kemudian setelah para sesepuh wafat kemudian beliau (K. Munawir memberikan nama Masjid Pesantren dengan Nama Masjid Al-Barokah. Beliau juga ikut mengajar di Madrasah Diniyah Salafiyah yang pada saat itu di kepalai oleh K. Ahyad kemudian setelah wafatnya K. Akhyad sekitar tahun 1978, pengajian rutin diserahkan ke K. Munawir. Setelah penerus yang muda muncul dan mendirikan Yayasan beliaupun ikut berkiprah dan membantu walaupun tidak ada di dalam kepengurusan Yayasan.

Selain beliau berkiprah di Pondok Pesantren beliaupun membantu di masyarakat luas yaitu mengembangkan ilmu khikmah dan ngobati masyarakat yang membutuhkannya. Beliaupun memberikan motifasi kepada masyarakat untuk mengikuti jam’iyah baik kepada kaum pria maupun wanita, contohnya beliau pernah mengundang para ibu untuk mengikuti ijazah Manakib dan Dalail kemudian setelah mereka mengikuti ijazah manakib dan dalail kemudian mendirikan Jam’iyah manakib yang diikuti oleh para ibu sampai sekarang masih berjalan, kemudian beliau juga mengumpulkan para ibu untuk mendirikan Jam’iyah Debaiyah yang diikuti oleh kaum Muslimat dan Jam’iyah tersebut sampai sekarang masih berjalan, beliau juga sering mengadakan Ziyaroh Kubur ke para wali Cirebon bahkan mengadakan Ziyaroh Kubur di makbarohnya KH. Manshur sampai 40 hari dan di akhiri di makbaroh para aulia di daerah Cirebon. Kemudian beliau pada akhir hayatnyapun melaksanakan Ziyaroh Kubur di makbaroh para Aulia Di Daerah Cirebon. Beliau juga menjelang ahir hayatnya mendirikan Asrama Pondok Pesantren An-Nashuha dengan nama Asrama “ Al-Mubarokah” kemudian setelah beliau wafat untuk mengenang beliau kemudian Asrama “Al-Mubarokah” diganti dengan Nama Asrama “Al-Munawir” sampai sekarang.

K. Munawir di keluarga baik kepada istri maupun kepada anak-anaknya beliau mendidik disiplin dan keras tetapi penuh kasih sayang. Kemudian di ahir hayatnya beliau pesan kepada istri dan anak-anaknya yang paling utama adalah mereka mengatakan jangan tinggal sholat terutama solat lima waktu dan jangan bermusuhan kepada siapapun terutama kepada saudara-saudaranya. Kemudian beliaupun menitipkan bahwa pengajian rutin jangan dihilangkan dan beliau menyerahkan kepada anak dan keponakannya. Beliaupun pada hari sabtu jam 04.15 tepat adzan subuh dikumandangkan, tanggal 10 Jumadil Akhir 1420 H/9 September 2000 wafat. Dan di makamkan di samping makbaroh KH. Manshur.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly