K. Ahmad Faridi

Sebuah Desa kecil yang menjadi bagian paling timur dari wilayah Kabupaten Cirebon hanya beberapa meter kearah timur adalah Sungai Cisanggarung yang merupakan pembatas antara Jawa Barat – Jawa tengah dan hanya 4 km kearah utara adalah Pondok Pesantren An-Nashuha, Desa itu bernama “Babakanlosari” disitulah Kyai Faridi dilahirkan pada tanggal 31 Oktober 1947.

Di Desa Babakan Losarilah Kyai Faridi yang memiliki nama lengkap Ahmad Faridi itu lahir dan dibesarkan. Ayahnya bernama Abd. Muid bin Warlam sedang ibunya bernama Tasi’ah binti Kyai Haji Abd Mannan. Ahmad Faridi adalah putra sulung dari tujuh bersaudara.

Setelah menyelesaikan Sekolah Dasar di Babakan Losari, Orang tuanya Tasi’ah menitipkan Ahmad Faridi pada kakaknya KH Manshur di Pondok Pesantren An-Nashuha dengan harapan bisa menimba ilmu banyak dari beliau, hal ini karena Tasi’ah selalu mendambakan Ahmad Faridi kelak menjadi kyai seperti Manshur adiknya, pada saat itu Ahmad Faridi baru berusia 12 tahun.

Setelah 3 tahun berada di Pondok Pesantren An-Nashuha KH Manshur menyarankan agar Ahmad Faridi melanjutkan pendidikan pesantrenya di Pondok Buntet Pesantren, maka pada tahun 1962 Ahmad Faridi berangkat ke Pondok Buntet Pesantren, di Pondok Buntet Ahmad Faridi tinggal di Asrama Kyai Zen bin Abd Mun’im disinilah Ahmad Faridi mulai menemukan jati dirinya, semangatnya yang menggebu untuk terus mengaji membuat Ahmad Faridi semakin tertarik untuk menimba ilmu agama di tempat yang lebih jauh lagi, sehingga setelah empat tahun di Buntet Ahmad Faridi meminta restu pada orang tuanya dan Guru sekaligus pa de’nya KH Manshur untuk pindah ke Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, beliau memilih Pondok Pesantren Lirboyo karena cita-citanya yang ingin membesarkan Pondok Pesantren An-Nashuha paling tidak seperti Pondok Lirboyo yang pada saat itu sedang diminati banyak orang.

Pada tahun 1965 Ahmad Faridi-pun berangkat ke Lirboyo diantar oleh Kyai Ahyad beserta keluarganya. Setelah mengikuti tes Masuk alhamdulillah Ahmad Faridi diterima masuk kelas I Tsanawiyah yang pada saat itu Lirboyo baru beberapa tahun mendirikan tingkatan Tsanawiyah.

Satu tahun setelah tamat Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Lirboyo, KH Manshur memintanya agar beliau pulang (boyong) karena akan dipersunting dengan putri ketiganya yang bernama Siti Muridah. Namun sebelum menikah Ahmad Faridi sempat mendalami kembali ilmu agama di pondok Pesantren An-Nashuha sambil ikut membantu ngajar di Madrasah Diniyah yang pada waktu itu selaku kepala Madrasahnya adalah Kyai Ahyad. Hal itu berjalan selama 1 tahun. Maka pada tahun 1971 Ahmad Faridi menikah dengan Siti Muridah putri ke tiga dari KH Manshur. Nasab Ahmad Faridi dengan Muridah adalah bertemu pada kakeknya yaitu KH Abd. Mannan.

Beliau dikaruniai anak pertamanya lahir pada tahun 1973 yang diberi nama Dzurri akan tetapi meninggal saat berusia 2 bulan, lalu putra keduanya lahir pada tanggal 12 April 1975 dengan diberi nama Saefullah Faried, sekarang sudah berkeluarga dan berdomisili di Desa Sidaresmi Kecamatan Pabedilan (dulu ikut Kecamatan Ciledug), anak ketiganya perempuan bernama Neneng Hulliyah yang lahir pada tahun 1978 sudah berkeluarga dan tinggal di Pondok Pesantren An-Nashuha Kalimukti, anak ke empat laki-laki bernama Ahmad Mubarok lahir pada tahun 1981 sudah menikah dan sekarang bermukim di Desa Dukuhwidara, anak ke lima laki-laki bernama Anis Furqon lahir pada tahun 1983 belum menikah sekarang masih berada di perantauan yaitu di kota Jakarta, anak terakhir laki-laki lahir pada tahun 1985 dengan diberi nama Abu Dzarrin Al-Giffari sekarang sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Tegal rejo Magelang sejak tahun 2006.

Semenjak Beliau pulang dari Pondok Pesantren Lirboyo hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengabdi pada Agama berjuang lii’lai kalimtillah. Disamping mengajar di Madrasah Diniyah An-Nashuha juga sebagai dewan pengajar di Madrasah Tsanawiyah Formal dengan Mata Pelajaran Mulok yaitu Nahwu Shorof. Beliau juga sampai akhir hayatnya tidak pernah mengenal lelah melakukan pembinaan pada ibu-ibu lewat pengajian rutin yang diselenggarakan di Majlis-majlis ta,lim, diantaranya pengajian rutin Hari rabu di Majlis Ta’lim Al-hikmah yang didirikanya sejak tahun 1980, hari ahad di Masjid jami babkan losari kidul, hari selasa di Masji Sidaresmi, hari Kamis di Musholla Babakan Losari Kidul dan masjid Babakan Cirawada.
Beliau disamping menekuni Toriqoh Tijaany juga aktif di organisasi NU dan jabatan yang pernah diembanya adalah masuk pada jajaran Suriyah MWC NU Kecamatan Ciledug pada tahun 1986 hingga tahun 1996, lalu memjadi Roisy Am Nahdlatul Ulama Ranting Desa Kalimukti pada tahun 1995 hingga wafat yaitu tahun 2006.

Beliau wafat pada usia 69 tahun, meninggalkan satu orang anak perempuan dan empat orang laki-laki, beliau wafat bertepatan pada tanggal 7 Romadlon karena penyakit yang telah lama dideritanya. Dan Satu tahun setelah wafatnya beliau pada bulan yang sama istrinya-Siti Muridah-dipanggil oleh Allah SWT “inna lillahi wainna ilaihi roji’un”.

Semoga amal bakti beliau berdua mendapatkan tempat yang layak dan diterima disisi Allah SWT, dan jasa-jasanya akan selalu dikenang oleh seluruh santri dan alumni Pondok Pesantren An-Nashuha.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly