Dirosah Diniyah

Pada dasarnya Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren An-Nashuha sudah ada semenjak berdirinya Pondok Pesantren An-Nashuha, akan tetapi seiring dengan berjalanya waktu dan generasi, sempat beberapa kali mengalami kevakuman. Sehingga pada akhirnya berganti menjadi madrasah Ibtidaiyah (MI) yang terdaftar di Departemen Agama RI.

Pada perjalannya Madrasah Diniyah dimasa K. Ahyad mengalami kemajuan, saat itu proses belajar mengajar masih bertempat di Langgar atau Surau K. Asy’arie (Menantu K. Uzer). Kemudian diilhami dengan semakin banyaknya santri, segenap Pengurus Pondok Pesantren berinisiatip untuk membangun gedung Madrasah Diniyah. Maka, para pengurus Pesantren pun Matur/Soan pada KH. Manshur dan K. Sufyan sebagai Pengasuh dan Sesepuh Pesantren An-Nashuha, meminta Restu untuk membangun gedung Madrasah Diniyah, sehingga pada tahun 1956 secara resmi berdirilah Madrasah Diniyah dengan gedung baru yang diberi nama MADRASAH IBTIDAIYAH MIFTAHUL AULAD yang biasa dikenal oleh Masyarakat sekitar dengan istilah SEKOLAH ARAB.

Pada saat itu yang dipercaya sebagai Kepala Sekolah adalah K. Ahyad, dalam perjalanannya Madrasah Miftahul Aulad ini berganti nama dengan MADRASAH IBTIDAIYAH SALAFIYAH, nama Salafiyah ini kemudian diurutkan karena waktu itu masih satu Desa yakni Kalibuntu, maka Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah diurut dari Madrasah yang ada di Ujung Barat kalibuntu (K. Ahmad Zaeni sekarang Raudlatut Tholibien) Salafiyah I, Kemudian ditengah (K. Moh. Hasyim sekarang I’anatut Tholibien) Salafiyah II selanjutnya di MI yang dulunya Tarjid (Sekarang Yayasan At-Tahiriyah/MI Islamiyah) Salafiyah III kemudian yang sekarang MI An-Nashuha dulunya SALAFIYAH IV.

Selanjutnya sepeninggal K Ahyad pada tahun 1979, Madrasah Diniyah dipegang oleh generasi berikutnya dengan jabatan kepala Madrsah dipercayakan kepada bapak K Abdul Jalil . Beliau mengemban amanat sebagai kepala Madrsah hingga Madrasah Diniyah berubah menjadi Madrasah Ibtidayah formal yang terdaftar pada Departemen Agama yaitu pada tahun 1982.

Seiring dengan perkembangan zaman, muncul ide dari K Abdul Jalil yang didukung oleh beberapa tokoh dilingkungan Pondok Pesantren An-Nasahuha untuk diformalknya Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah, maka semenjak itu pula Madrasah Ibtidaiyah Salafiyah beralih status yang semula murni mrupakan pendidikan salaf berubah menjadi pendidikan formal dan harus mengikuti aturan-aturan pemerintah sebagai konsekwensi diformalkanya Madrasah Diniyah.

Selanjutnya sepulangnya para keturunan pendiri pondok Pesantren An-Nashuha dari berbagai Pondok Pesantren pada tahun 2001, muncul inisiatif untuk menghidupkan kembali Madrasah Diniyah yang telah sekian lama terhenti, pada saat itu pengasuh pondok Pesantren An-Nashuha KH Usamah Manshur mengumpulkan seluruh dzurriyah An-Nashuha untuk menyepakati kembali pendirian Madrasah Diniyah. Maka tepat pada tanggal 21 Desember 2001 secara resmi telah berdiri kembali Madrasah Diniyah dengan nama “Madrasah Diniyah An-Nashuha” pada waktu itu siswa berjumlah 40 orang.

Untuk pertama kalinya Ust. Abdul Ghofur, S. PdI diangkat sebagai Kepala Madrasah Diniyah Awwaliyah dan Ust. Mustain Munawwir, S. PdI sebagai Kepala Madrasah Diniyah.

Dalam perjalananya Madrasah Diniyah An-Nashuha mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini tentu karena santri yang ada di Pondok Pesantren An-Nashuha dari tahun ketahun grafiknya terus meningkat sekalipun hingga tahun 2003 siswa Madarah Diniyah masih didominasi oleh siswa penduduk lokal.

Saat itu Madrasah Diniyah An-Nashuha dibagi menjadi dua tingkatan:

  1. I’dadiyah I dengan mata pelajaran
    • Nahwu= kitab Al-awamil dan,
    • Fiqh= kitab safinatussholah,
    • Tauhid= kitab Aqidqtul awam,
    • Al-Qur’an= Hafalan juz amma,
    • Hadits= kitab al-arbainnawawi.
  2. I’dadiyah II dengan mata pelajaran
    • Nahwu= kitab Al-ajurumiyah,
    • Sorof= kitab Qowaidusshorfiyah,
    • Fiqh= kitab sulam taufiq,
    • Hadits= kitab arbainnawawi’,
    • Tauhid= kitab Tijan durory,
    • Ahlaq= kitab taisitul kholaq.

Sehubungan dengan semakin banyaknya siswa madrasah Diniyah An-Nashuha pada tahun 2003, sesuai hasil rapat Dewan asatid, Madrasah diniyah dibagi menjadi dua tingkatan yaitu tingkatan I’dadiyah dan Tsanawiyah. I’dadiyah disamping merupakan tingkatan persiapan sebagai seleksi untuk menentukan kelas di Tsanawiyah, juga untuk menerima siswa yang mendaftar pada pertengahan tahun, pada saat itu jumlah siswa Madrasah Diniyah seluruhnya berjumlah 120 orang.

Mulai tahun 2005 Madrsah Diniyah An-Nashuha merubah kembali tingkatan atau jenjang menjadi tingkatan awaliyah, wustho dan Ulya dengan jumlah siswa keseluruhan 300 siswa,dengan klasifikasi tingkatan awaliyah berjumlah 120 orang siswa, tingkatan wustho 150 rang siswa dan tingkatn Ulya 30 orang.

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter
Print Friendly