Hampir sebulan di Indonesia diterapkan pola kerja baru yang disebut Work From Home (WFH) atau bekerja dari rumah. Lebih awal lagi telah diberlakukan sistem belajar dari rumah untuk siswa dan mahasiswa. Wakhasil, semua itu menjadikan seluruh anggota keluarga kumpul, meski dengan beragama aktivitas rumahnya masing-masing.

Demikian juga yang dirasakan keluarga Maksudi. Anak lanangnya, sebut saja NZ, mengisi keseharian WFH dengan asyik di depan laptop kesayangannya. Layarnya terbuka, entah sedang berselancar apa. Headset yang menempel di telinganya sejak awal terhubung dengan rekan kerjanya yang entah sedang di mana. Percakapan dimulai dan terdengar sedang rapat #onlinemeeting. Sesekali terdengar tawa, pertanyaan serius, dan kadang seperti instruksi kerja, gonta-ganti berselang. HP di tangan kirinya sedang online. Sembari rapat, terdengar selingan musik dan cemilan juga ga pernah ketinggalan. Ciri anak milenial paling kentara yang membedakan dengan “generasi kolonial” seperti orang tuanya: multi-tasking.

Anak lanang itu sedang kerja dari rumah #WFH. Sebenarnya itu bukan hal baru baginya. Dalam sebulan, 1-2 hari perusahaan memang membolehkan pegawainya bekerja dari rumah. Istilahnya remote work. Jadi, ketika kebijakan pemerintah untuk WFH dan #physicaldistancing, anak-anak milenial yang kerja di berbagai platform digital tak terlalu risau karena sudah terbiasa dan sudah mengalami work from home. Dari rumah, sembari nyantai sambil ngemil, ngopi atau rebahan pun tetap bisa menyelesaikan tugas atau target kerja.

Lain halnya dengan sebagian pekerja kantoran, guru, dosen, pekerja formal, atau PNS yang masih gagap ketika disuruh kerja dari rumah. Bagaimana caranya? Apa yang harus dikerjakan? Nanti laporannya seperti apa? Absennya bagaimana? Banyak pertanyaan. Sampai sekarang banyak pegawai yang bingung menerapkan WFH secara efektif, apalagi menyangkut staf/karyawan yang memiliki kebiasaan kerja tak terstandar. Lingkungan kerja, kultur kerja, motivasi, dan tugas-fungsi (tusi) yang khas kantoran, misalnya di pemerintahan, tak mudah diadaptasi melalui kerja dari rumah.

Program dan lingkup pekerjaan, anggaran yang terdistribusi di unit, kepemimpinan kolegialitas yang parsial, spesifikasi dan tanggung jawab pekerjaan pada orang per orang, ditambah aturan birokrasi atas-bawah yang masih melekat, menjadi kendala tersendiri untuk menyelesaikan semua pekerjaan sesuai target. Belum lagi realisasi program dan anggaran yang tersentralisasi atau tergantung pada sasaran (antar lembaga/instansi, atau untuk kepentingan publik). Itu khas banget di birokrasi kita.

Solusi instannya, kini banyak pegawai yang rame-rame menggunakan platform digital “setengah hati” untuk berkordinasi, berkomunikasi, dan konsolidasi dengan rekan kerja atau mitranya. Yang ngetren dan jadi fenomena baru penerapan WFH adalah rapat dengan menggunakan fasilitas Zoom Meeting atau platform lainnya. Kenapa setengah hati? Karena tak ada cara alternatif dan tak tau caranya. Pokoknya ikutan dan coba-coba-salah (trial and error). Mereka belum terbiasa dengan model “kerja dari rumah”, yang sejak awal tahun lalu baru mulai akan diterapkan di beberapa instansi pemerintahan. Nah, sekarang ketika belum siap semua aturan, regulasi dan perangkatnya, dipaksa oleh Corona untuk menerapkan kerja dari rumah. Ya sudah, sebagian besar kaget dan tak ada arahan untuk melaksanakan kerja seperti itu. Apakah ini blessing in disguise dari kasus Corona agar wacana kerja dari rumah bisa segera direalisasi?

Mari perhatikan contoh keluarga ini. Di samping anak lanang NZ tadi, adik perempuannya sedang mengerjakan tugas kuliah online dari dosennya. Dia pantengin laptop sambil utak-atik HP. Sesekali chattingan dengan teman sekelas-maya-nya. Searching via browser atau google terjemahan bahasa Inggris. Mencari jawab juga bertanya ke mbah Google. Padahal headsetnya sedang mendengarkan lagu-lagu terkini. Sambil mengerjakan tugas kok ya sempet-sempetnya main tik-tok, berias atau kutek (mewarnai kukunya). Hadeeuh… ortunya yang melihat geleng-geleng kepala tidak mengerti polah-tingkah generasi Z dalam belajar atau mengerjakan tugas.

Di ruangan lain, ibunya yang dosen juga berjibaku mempersiapkan tugas kuliah. Ia akan merancang kelas online dengan fasilitas hangout atau google meeting yang ia pelajari dengan banyak bertanya kepada anak lanangnya. Bahan paparan siap, tapi –seperti kebanyakan generasi baby boomers yang gaptek– tak tau mengoperasikan kelas onlinenya. Untung ada instruktur si anak lanang yang sigap membantu ibunya sembari cengar-cengir, mungkin geli melihat tingkah-laku ortunya yang gagap soal (yang menurut pikirannya) sepele itu.

Maksudi, sebagai kepala keluarga juga tidak kalah sibuk dengan aktivitas Zoom Meeting yang di-host-i oleh salah satu koleganya. Dia sejam sebelumnya menerima inviting untuk Join Cloud HD Video Meeting. Ada agenda penting di kantornya yang harus segera dibahas dan diputuskan. Memakai HP dan laptop miliknya, bolak-balik gagal to join; sudah terkoneksi tapi tak ada suaranya; sudah ada suaranya tak tau cara mengaktifkan videonya; sudah join tapi suaranya berisik karena mute dan unmute-nya masih aktif. Dan sebagainya tanda kegagapan lain yang tak-ditampakkan. Meski demikian, ia pedhe dan menunjukkan kebanggaan bisa Join Zoom Meeting di hadapan anak-anaknya. (Tak tahu kalau anaknya barangkali sebel karena bawel dan berisik…)

Alih-alih menikmati waktu berkumpul dengan keluarga, WFH di weekday adalah tontonan berbagai aktivitas (yang beralih ke) rumah. Aktivitas yang sebelumnya tak-saling-diketahui oleh anggota keluarga (kecuali kalau pas cerita/curhat apa yang dialami di tempat masing-masing), dengan #diRumahAja semua jadi saling-tahu. Transparan. Menyenangkan sih, karena satu rumah bisa saling belajar dan melengkapi. Mengkritik dan mendukung. Memberi dan menerima.

Mastuki (Kepala Pusat Registrasi Sertifikasi Halal)

Sumber : kemenag.go.id